Langsung ke konten utama

TENTANG PANTAI JUMIANG


LEGENDA BUJUK ADIRASA JUMIANG
Oleh:LISARS

Berkunjung ke tempat wisata tentu sudah dapat di pastikan menjadi salah satu agenda untuk menghabiskan liburan,selain di manfaatkan untuk berkumpul bersama keluarga. Momen ini juga kerap kali digunakan untuk merefresh pikiran.

Madura merupakan tempat yang menyimpan banyak sekali tempat wisata. Namun kerap kali mungkin belum mengetahui asal-usul tempat wisata yang akan mereka kunjungi.

Salah satu tempat wisata di pamekasan Madura adalah "Pantai Jumiang" di balik keindahannya pantai jumiang memiliki kisah mistis.

ALKISAH...
Disebuah daerah pelosok di penuhi pohon ilalang lebat nan tinggi hiduplah seorang petapa yang senang berkhalwat. Tempat sunyi akan menjadi tempat yang pas untuk menyendiri baginya,berada di ujung pohon ilalang di daerah jumiang.

Petapa itu bernama Adirasa
Adirasa adalah paman Jokotole dan Agus Wedi,
Setelah menjadi adipati di gresik,Agus wedi selalu mampir untuk menemui pamannya di jumiang.

Setiap harinya Adirasa hanya menikmati hasil alam dekat rumahnya,ikan bakar sering ia nikmati bersama desiran ombak yang memukau dengan di temani burung-burung berterbangan.
Kehidupan yang alami membuatnya betah berlama-lama di jumiang. Sesekali AgusWedi ataupun Adi podai dan Joko Tole mampir untuk menemuinya.

Konon di jumiang terdapat goa membentuk lorong panjang.gua ini merupakan jalan bersambung dengan goa pajuddan tempat Adipodai bertapa. Goa lorong panjang tersebut dijadikan tempat pertemuan Adirasa yang bertapa di Jumiang dan Adipodai yang merupakan saudara dari Adirasa untuk bertemu.
Namun,keberadaan lorong Goa unu tidak dapat di buktikan dengan mata telanjang hanya orang-orang yang memiliki ilmu kebatilan tinggi yang dapat melihatnya dengan sempurna.

Suatu Hari raja Majapahit Yakni Hayam Wuruk dengan patihnya Gajah mada mengadakan sayembara untuk membangun pintu gerbang raksasa yang terbuat dari besi. Semua pandai besi di jawa dan madura hadir untuk mengikuti sayembara itu. Namun tak ada satupun yang berhasil.

Mendengar sayembara itu Joko tole ingin mengikuti sayembara tersebut,awalnya Joko tole tidak diijinkan oleh Mpu Kaleng. Joko tole pun tetap di rumah dan ia banyak di suruh oleh para tetangganya membuat perkakas yang konon perkakasnya mempunyai kelebihan.
Misalkan,perkakas pertanian yang membuat tanaman subur dan keris yang sakti di buat dengan tangan,lutut dan jarinya sendiri.

Akhirnya Joko tole di perbolehkan Untuk mengikuti sayembara itu dengan pesan sebelum berangkat harus menemui pamannya yakni Adirasa di jumiang.
Tiba di jumiang Joko tole banyak menemui pohon ilalang lebat nan tinggi,jika tidak bergerak cepat tubuhnya akan merasakan gatal gatal di seketujur tubuhnya.dengan kecepatan kilat joko tole berhasil menembus pohon ilalang tersebut.

Didapatnya Adirasa sedang menunaikan ibadah sholat Dzuhur beralaskan batu putih yang lebar menghampar,sembari menunggu pamannya selesai sholat Joko tole melihat pemandangan yang menakjubkan mampu menghilangkan penat yang ia alami di perjalanan,telaga kecil indah dan asri itu sangat luar biasa indahnya serta Airnya yang sangat jernih.

"Le?kau kah disana?" Sapa Adirasa kepada Joko tole karna dilihatnya ia tengah terhipnotis dengan pemandangan asri nan alami

"Mmm iya paman" jawabnya seraya membalikkan badan

"Ada angin apa yang membuatmu kemari?" Tanya Adirasa sembari duduk di dekat Joko Tole

"Begini paman,saya akan mengikuti sayembara di negeri seberang di kerajaan majapahit untuk membangun pintu gerbang. Saya minta restu dari paman untuk mengikuti sayembara itu" ucap joko tole memantapkan.

"Do'aku selalu menyertaimu,le jangan lupa untuk selalu jujur dan bawalah jimat ini. Jimat ini akan melindungi kamu di perjalanan nantinya." jawab Adirasa memberikan jimat itu.

"Terimakasih paman,saya harus berangkat sekarang ke tanah Majapahit" ucapnya seraya mengambil jimat itu dengan senyum manis di bibirnya.

"Ingat pesanku ini jimat itu jangan sampai hilang sebeluk kau sampai ke tanah majapahit. Jangan lupa juga sampaikan salamku kepada Adi podai dan Agus Wedi" ucap Adirasa mengunggukkan kepalanya

Joko tole hanya membalasnya dengan anggukan dan juga senyuman tanda pamit.

Dari pamannya inilah Joko tole mendapat nasehat sekaligus jimat untuk memenangkan sayembara tersebut.

Sesampainya di Majapahit tidak ada satupun yang bisa membangun pintu gapura di kerajaan Majapahit,semua orang telah mencobanya namun hasilnya nihil. Setelah Joko tole mencoba
Alhasil,pintu gapura berhasil Joko tole buat.

Konon asal muasal Joko Tole adalah bayi yang di buang karna pernikahan Adi podai dan Dewi Ragil kuning yang tidak di restui oleh ayah Adi podai bahkan Adi Podai sampai tidak mempermasalahkan hal tersebut,Adi podai tetap memperistri Dewi Ragil Kuning secara diam-diam.

Lambat laun hasil pernikahan mereka terdengar oleh ayah Adi podai dengan kelahiran Anak Adi podai dan Dewi Ragil Kuning.
Ayah Adi podai malu mengenai Pernikahan tersebut karna tanpa sepengetahuannya anaknya telah menikahi gadis yang ia tak setujui dan mempunyai anak.

Akhirnya Bayi itu di buang ke hutan dan di pungut oleh Mpu bernama Mpu Kaleng,Seorang pandai besi. Bayi itu disusukan kepada sapi Mpu Kaleng dan diberi nama "Joko Tole" .
Joko Tole di didik oleh Mpu Kaleng dengan sabar dan tekun. Sehingga setelah dewasa segala kepandaian ayah angkatnya dapat di miliki.
Ia dapat membuat sebilah keris hanya dengan memijat-mijat sepotong besi saja.


SKIP.....

Adirasa meninggal dan di makamkan di jumiang.
Dahulu,makam Adirasa sangat keramat sekali apapun yang terbang dan melintas tepat di atasnya akan jatuh.di makam Adirasa tersebut terdapat sumber mata air tawar membentuk telaga kecil dengan pemandangan yang indah dengan di kelilingi oleh pohon ilalang hijau nan indah. Namun pemandangan telaga kecil ini hanya terlihat sesaat saja. Pemandangan ini sering muncul dari generasi sesepuh ataupun Generasi sekarang.

Disebelah Selatan Telaga kecil terdapat sebuah batu putih yang lebar menghampar untuk seseorang melaksanakan Sholat di sebelah kanan batu itu terdapat sepotong bambu kering (Tonggek madura) Yang di ditancapkan ke bumi dengan ujung atasnya menggantung sebuah "Begung" (alat untuk menciduk air) dan di sebelah timur batu itu ada sepasang sandal peccak (Sandal Kuno).

Di sebelah selatan terdapat sebuah pohon mengkudu yang tumbuh tinggi nan lebat namun tidak pernah berbuah,dahulu masyarakat setempat menjadikan pohon Mengkudu sebagai pertanda. Apabila ada salah satu cabangnya yang patah maka berarti akan ada tokoh di jumiang yang akan meninggal,sayang sekali pohon mengkudu itu sudah tidak ada lagi.

Walaupun keberadaannya hanya sebagai bunga tidur dalam mimpi namun keberadaannya tetap di yakini oleh masyarakat setempat.
Mengenai nama Dari "Pantai Jumiang" dahulu setiap orang yang datang ke jumiang akan merasakan gatal-gatal di sekujur tubuhnya walaupun tidak sampai menjadi penyakit kulit.
Barang kali hal ini wajar terjadi pada dahulu di saat pantai jumiang masih di penuhi dengan pohon ilalang yang lebat dan tinggi,sehingga setiap orang yang terpaksa menerobos maka kulitnya akan terasa gatal karna menyentuh pohon ilalang tersebut hal ini kemudian di kaitkan dengan nama "Jumiang" yang berasal dari kata "Ju" yang artinya muncul
Dan "Miang" yang artinya Gatal


Percaya atau tidak tentang kebenaran Bujuk Adirasa legenda asal-usul tempat di ceritakan dari mulut ke mulut. Mengenai keberadaannya pernah di percayai oleh masyarakat setempat.

Komentar